Kamis, 11 Desember 2008

Gerakan Orientalisme

Yang Kita Pikirkan dan Yang kita lakukan.

Mengapa orang - orang Barat sangat berkepentingan mempelajari cara berpikir kita? Apakah rahasia di balik ribuan buku yang terbit di barat tentang kita? mengapa ratusan ilmuwan telah dikerahkan untuk mempelajari cara berpikir kita?

Ketika orang-orang eropa harus hengkang dari Al-Quds setelah kalah dalam perang delapan babak selama dua abad ( abad 11-13 M ) yang kemudian kita kenal dengan sebutan perang salib - Tidak ada lagi perang yang signifkan antara Islam dan Barat sampai beberapa ratus kemudian. Dengan pengecualian eksapansi Khilafah Utsmaniyah ke Eropa Timur hingga ke Wina dan mencapai klimaknya pada perebutan Konstantinopel pada abad ke 15M,perang besar antara Islam dan Barat baru terjadi lagi pada abad ke 18 hingga abad ke 20 M.

Pada jeda lima abad itu tidak ada pertempuran. Tapi, sebenarnya perang tetap berlanjut . Yang muncul setelah itu adalah gerakan orientalis, sebuah gerakan masif baru yang berorientasi mempelajari " Timur " dalam semua aspeknya. Hasilnya adalah sebuah peta tentang kondisi kawasan Timur ( Islam ) dalam semua aspeknya. Kemudian peta itu menjadi dasar penyusunan rencana imperialisme. Jadi, lima abad setelah usainya Perang Salib gerakan orientalisme itu berujung dengan imperialisme.

Diawal Abad ke 20, cikal bakal gerakan kemerdekaan telah berkecambah di seantero Dunia Islam. Dan pemerintah Inggris segera menugaskan seorang ilmuwan bernama Hamilton Gibb untuk mempelajari apa yang mereka sebut dengan " perkembangan pemikiran Islam moderen. Buku itu di terbitkan pertama kali tahun 1930. Malik Bin Nabi memberikan perhatian serius terhadap buku itu dalam bukunya Wijhatul 'Alam Al-Islami. Yang menarik adalah komentar akhir Gibb, dimana ia mengatakan bahwa bukunya harus terbit dua tahun setelah berdirinya gerakan Ikwanul Muslimin. Dua tahun bagi Gibb,bukanlah waktu yang cukup untuk mempelajari gerakan itu, Tapi Gibb tetap menyampaikan kecemasannya: Suatu saat gerakan itu akan menjadi ancaman bagi Barat . Rekomendasi Gibb kemudian ditindaklanjuti dengan menugaskan dinas intelejen Inggris untuk mempelajari gerakan Ikwanul Muslimin.

Pada paruh kedua abad ke 20, gerakan orientalisme mengalami perubahan orientasi yang signifikan. Bukan pada fungsi dan misinya. Tapi, cara kerjanya. Sekarang gerakan orientalisme telah dimasukan de dalam kajian - kajian ilmu sosial di berbagai universitas, khususnya pada bidang sosiologi,politik,dan ekonomi. Dan biasanya mengambil tema studi kawasan. Mereka tidak lagi disebut sebagai orientalis. Mereka dikenal sebagai pakar kawasan, seperti pakar Timur Tengah, Indonesianis, dan semacamnya.

Biasanya hasil riset mereka akan menjadi dokumen penting di departemen luar negeri di semua negara Barat. Hasil riset itu merupakan data intelejen strategis yang melandasi penyusunan kebijakan luar negeri negara-negara Barat terhadap negara-negara lain di Dunia Islam. Untuk sejumlah kasus yang spesifik, atau apabila ada rencana melakukan manuver ofensif, data intelejen strategis akan diperkuat dengan data intelejen taktis. Dengan begitu kita menyaksikan sebuah sinergi yang dahsyat antara tiga institusi penting : perguruan tinggi atau lembaga kajian strategis, dinas intelejen, dan departemen luar negeri.Para pakar mempelajari aspek-aspek pemikiran, budaya dan perilaku sosial politik. Dinas intelejen mempelajari aspek-aspek perencanaan, gerakan, manuver, dan semacamnya. Selanjutnya, departemen luar negeri membuat kebijakan politik luar negeri.

Sampai disini kita belum menjawab pertanyaan semula.Mengapa mereka begitu berkepentingan mempelajari cara berpikir kita ? Karena dengan mengetahui cara berpikir kita , mereka mengetahui cara kita bersikap dan bereaksi terhadap berbagai masalah. Tindakan-tindakan yang akan kita lakukan tidak akan pernah keluar dari lingkaran pikiran-pikrian kita. Sebagian dari pikiran-pikiran itu disadari saat kita bertindak , tapi sebagian lainnya boleh jadi tidak disadari sama sekali.Tetapi pikiran-pikiran itu secara keseluruhan merupakan bingkai yang membatasi semua tindakan yang mungkin akan kita lakukan. Pikiran adalah rahasia yang akan menjelaskan semua tindakan yang kita lakukan.

Dengan memperoleh "dokumen pemikiran" kita, mereka akan melakukan langkah antisipasi untuk merebut masa depan.Oleh karena itu, kita akan selalu menemukan korelasi antara tesis Hungtington dengan berbagai kebijakan luar negeri Amerika. Kita juga akan menemukan korelasi antara pengamatan-pengamatan John L. Esposito, Khususnya tentang pertumbuhan demokrasi di kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara serta munculnya kekuatan-kekuatan politik Islam dalam sitem multipartai,dengan berbagai kebijakan luar negeri Amerika Serikat dikedua kawasan ini.

Apa yang harus kita lakukan sebagai aktivis dakwah, khususnya para qiyadah dakwah, adalah berusaha secara sistematis untuk bekerja dengan kapasitas dan kualitas yang sama dengan musuh-musuh kita. Kita harus punya metodologi dan instrumen pembacaaan yang komprehensip dan integral terhadap musuh-musuh dakwah.

Salah satu kelemahan yang cukup fatal adalah kita tidak memilki berbagai perangkat pembacaan terhadap musuh-musuh kita.Baik perangkat institusi ( lembaga-lembaga kajian strategis ) maupun perangkat-perangkat metodologi ( metode analisis berbasis perspektip dakwah.

Seorang ahli strategi perang Cina, Sun Tzu menyampaikan sebuah pesan bijak. " siapa yang mengenal dirinya dan mengenal lawannnya, maka ia akan memenangkan seribu pertempuran.

Menikmati Demokrasi